- Pernikahan

Pernikahan yang Hambar, Haruskah Terus Bersama?

“Pernikahan saya sekarang adalah pernikahan yang hambar. Saya tidak tahu di mana kesalahan saya. Namun gairah itu hilang entah kemana. Saya sudah tidak tertarik lagi kepadanya.”

Apakah seperti ini perasaan Anda sehari-hari?

Begitulah, kisah Shrek dan Fiona yang happily ever after memang hanya dongeng. Di dunia nyata, baru anak pertama, riak kadang sudah mulai terasa. Sebabnya?

Tentu saja bisa bermacam-macam. Mulai dari perselingkuhan, merasa diabaikan, pasangan ringan tangan, hingga alasan klise seperti perbedaan sudut pandang.

Setiap pasangan yang menikah pasti berharap hanya satu kali menikah seumur hidup. Namun, kita juga sadar, saat ini susah sekali mewujudkan keinginan ini. Lihat saja berita perselingkuhan yang akhir-akhir ini banyak menghiasi halaman situs-situs berita dan timeline media sosial.

Jadi, apakah penyebab dan bagaimana mengatasi pernikahan yang hambar ini?

 

Penyebab pernikahan bisa menjadi hambar

Keindahan hidup bersama ada pada kedekatan yang tercipta di antara kedua pasangan. Kekuatan dari kedekatan ini membawa banyak pasangan untuk terus mampu mempertahankan cinta dan kasih sayang. Bukankah ketika merasa memiliki orang yang bisa diandalkan, kita akan merasa kuat, bahagia, juga merasa dihargai?

Sayangnya, kedekatan juga bisa menjadi bumerang. Ketika orang yang kita sayangi mulai mengkritik, berbohong, mengabaikan atau meremehkan, perasaan itu akan lebih sakit dan lebih mudah membuat kita nelangsa. Seperti kata pepatah, semakin kita menyayangi, semakin dalam benci yang akan dirasakan.

Saat ini terjadi dalam sebuah pernikahan, sebagian mungkin akan bertahan, sementara sebagian lain memilih untuk balik menyerang.

 

Apa pilihan terbaik ketika pernikahan menjadi hambar?

Bagi pasangan yang sudah menikah, memutuskan berpisah atau meneruskan pernikahan yang hambar bukan masalah yang mudah. Pertimbangan anak, pasangan yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan, atau pertimbangan lainnya, sering membuat pasangan berpikir berulang kali untuk berpisah.

Di satu sisi, meneruskan pernikahan hanya akan membuat hidup Anda sepi dan kosong. Kira-kira apa jalan yang terbaik?

Bagaimana jika mencoba duduk dan berpikir sejenak, benarkah berpisah adalah satu-satunya pilihan?  Bagaimana jika Anda perjuangkan dulu pernikahan ini, akankah rasa hambar tersebut akan berkurang atau malah semakin menjadi? Bagaimana dengan anak-anak, apakah mereka juga telah masuk dalam hitungan Anda?

Sayangnya, tidak ada shortcut untuk dilema yang satu ini. Keputusan akhir sebetulnya tergantung pada kondisi yang Anda tentukan sendiri dan juga kesimpulan dari pemikiran-pemikiran Anda.

Bagaimana jika Anda mencoba memperbaiki pernikahan? Berusahalah memperbaiki diri dan pertimbangkan anak-anak di dalamnya. Sanggupkah mereka menerima perpisahan orang tuanya?

Menurut kami, tidak ada salahnya untuk mencoba. Anda akan menemukan sesuatu yang berharga di sana.

Cobalah juga berbicara dengan teman atau keluarga terdekat yang Anda percaya mampu melihat dengan adil. Jika perlu, temuilah ahli atau konsultan pernikahan.

Bila pada akhirnya harus berpisah, pastikan keputusan Anda ini dibuat dengan kepala dingin dan pikiran yang benar-benar jernih. Pahamilah pula jika perpisahan ini adalah sebuah proses yang panjang, juga sulit.

Apa pun pilihan yang akhirnya Anda pilih, kami yakin Anda  tidak memilih untuk berada dalam pernikahan yang tidak bahagia. Jika harus berada di dalamnya, itu karena Anda tahu dapat mengatasinya dengan penuh penghargaan kepada diri sendiri.

Tidak ada yang dapat memberitahu Anda apa yang harus dilakukan (dan jangan pula membiarkan mereka memberitahu).  Kami berharap hal yang terbaik untuk Anda, pasangan, juga anak-anak Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.