- Pernikahan

Pernikahan Langgeng Setelah Punya Anak? Bisa Diusahakan!

Mengusahakan pernikahan langgeng adalah tanggung jawab Ayah dan Bunda. Namun setelah punya anak, kadang pernikahan juga bisa berantakan. Tentu saja, ini bukan karena tugas kepengasuhan merusak semuanya. Hanya saja, ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam hubungan suami istri.

William J. Doherty, seorang terapis keluarga dan pengarang buku Tack Back Your Marriage berkata, 70 persen pasangan mengalami penurunan kepuasan tentang hubungannya dengan pasangan begitu mereka memiliki anak.

Biasanya, begitu punya anak, energi kita tercurah sepenuhnya untuk anak-anak hingga kita lupa untuk memperhatikan pasangan kita masing-masing. Padahal meskipun sibuk dengan anak ataupun pekerjaan, kita tetap harus memperhatikan pasangan.

Doherty berkata, “Jika ingin menyelamatkan pernikahan, wajib bagi suami istri untuk meluangkan waktu dan perhatian kepada pasangannya.” Jangan sampai kita berusaha membuat anak-anak kenyang tetapi membiarkan pernikahan ‘kelaparan’.

Sebuah penelitian yang di terbitkan di History of Human Science mendukung teori ini. Jurnal tersebut menyebutkan, menjadi orang tua memang menurunkan kualitas kebahagiaan suami-istri. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pasangan yang merencanakan kehamilannya memiliki perasaan lebih puas terhadap hubungan masing-masing.

 

Alasan memiliki anak bisa merusak pernikahan

Betul, anak seharusnya menjadi prioritas orang tua. Namun berhati-hatilah untuk tidak menjadikan anak sebagai satu-satunya prioritas. Jika ini terjadi, pasangan dapat saja merasa diabaikan atau diremehkan dan ini dapat melemahkan hubungan suami istri.

Perlu Ayah-Bunda tahu, anak-anak sangatlah sensitif. Mereka akan tahu jika Ayah dan Ibunya tidak bahagia atau tidak puas.

Saat sibuk dengan anak-anak, umumnya pasangan akan saling mengandalkan.

“Ah, istriku tahu apa yang harus ia lakukan.”

“Toh, suamiku sudah besar dan bisa mengurus kebutuhannya sendiri.”

Sayangnya, hal ini sering dapat membuat suami-istri lupa, jika pasangannya juga tetap butuh perhatian dan didengarkan.

 

8 cara membuat pernikahan langgeng

 

1. Berusaha tetap saling terhubung

Jangan abaikan kencan di akhir pekan. Jika tidak sempat, nikmati dan mengobrol saja berdua di rumah.  Pastikan tetap saling menyapa dengan sebuah pelukan dan ciuman. Beranjaklah tidur lebih sore agar Ayah-Bunda segar esok hari. Berbagilah cerita atau masalah yang sedang dihadapi agar pasangan merasa diperhatikan.

 

2. Persiapkan diri menjadi ayah dan ibu

Alih-alih berpikir jika punya anak membuat kebebasan ayah dan bunda menghilang, cobalah berpikir jika memiliki anak adalah salah satu bagian dari kebahagiaan pernikahan.

Memiliki waktu hanya berdua, di saat berperan sebagai orang tua tentu terasa lebih berharga. Ingat selalu perasaan ini. Jadikan sebagai kesempatan untuk saling mendekatkan diri. Duduklah bersama, berbagilah pelukan, dan pastikan pasangan mengetahui jika Anda menghargainya.

 

3. Berbagi tanggung jawab

Baik Ayah atau Bunda dapat mudah merasa lelah ketika memaksakan diri melakukan banyak pekerjaan. Buatlah hidup mudah dengan berbagi pekerjaan. Misalkan dengan berusaha mengurus diri sendiri, mengerti kerepotan pasangan, hingga mengurus anak. Bagi pekerjaan rumah dengan adil agar salah satu pasangan tidak merasa bekerja lebih banyak dibanding yang lain.

 

4. Ajarkan anak mandiri

Saat anak-anak semakin besar, ajarkan mereka mandiri. Hal ini tidak hanya menyiapkan anak saat ia besar nanti tetapi kita juga menyiapkannya menjadi orang dewasa yang lebih siap.

Dengan anak-anak yang semakin mandiri, Ayah-Bunda akan memiliki waktu berdua lebih banyak.

 

5. Bertengkarlah dengan cinta

Memiliki pernikahan yang bahagia tidak berarti tidak pernah bertengkar. Hanya saja, Ayah-Bunda tahu bagaimana beradu argumentasi dengan benar, serta mampu menjaga rasa cinta dan kasih sayang.

 

6. Jadwalkan hubungan intim

Luangkan waktu untuk menjaga kedekatan Ayah-Bunda. Menjadwalkan berhubungan intim bukan hal yang romantis. Namun setidaknya, jadwal terebut akan membuat Ayah-Bunda meluangkan waktu berdua di ranjang. Bagaimanapun juga, kepuasan seksual menjadi salah satu kunci pernikahan langgeng dan rumah tangga bahagia.

 

7. Randevous

Cobalah ingat saat Ayah dan Bunda dulu hanya berdua. Bagaimana Ayah-Bunda selalu mengkhayal jika kelak punya anak. Apa saja yang hendak dilakukan bersama, bagaimana mendidiknya, dan seterusnya.

Cara ini bisa membuat Ayah-Bunda menjadi lebih dekat, sekaligus lebih menghargai keberadaan si kecil sekarang.

 

8. Terima fase pernikahan ini

Selalu hargai setiap fase pernikahan meskipun terasa berat. Pastikan pasangan tahu jika Anda akan selalu bersamanya.

Sekarang Ayah-Bunda adalah dua orang yang dewasa, begitu juga hubungan Ayah dan Bunda. Memiliki anak tentu mengubah cara pandang dan juga prioritas hidup Ayah-Bunda. Hal inilah yang membuat Anda berdua terus tumbuh. Namun satu hal yang pasti, jangan pernah ubah cinta Ayah-Bunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.