- Pernikahan

Paling Tabu Dibicarakan, Ini Triknya Bicara Uang dengan Pasangan

Sebuah akun di Instagram pernah memuat meme, bahwa bicara uang dengan pasangan lebih tabu dibandingkan bicara tentang seks.

Begitulah, banyak pasangan yang masih enggan membicarakan masalah uang. Tidak peduli apakah mereka melewati masa pacaran atau sekadar berteman sebelumnya, bicara uang seolah terasa berat.

Banyak sebab yang dikemukakan, mulai dari menghindari pertengkaran, tidak mau pusing, atau berdalih karena ingin menghormati privasi dan kebebasan masing-masing.

Faktanya, ada banyak kasus pernikahan yang retak karena masalah uang. Anggaran rumah tangga juga bisa membengkak, dan yang lebih parah, tujuan keuangan keluarga sulit untuk terwujud.

Sebuah penelitian di luar negeri mengungkapkan bahwa pasangan yang berargumentasi masalah uang seminggu sekali, sebanyak 30 persen berpotensi mengalami perceraian.

Kebanyakan pihak wanita mengeluhkan tentang penggunaan uang, sementara para suami menjadikan ketiadaan kesepakatan masalah keuangan menjadi penyebab perceraiannya dengan pasangan.

Jadi, tidak ada salahnya jika saat ini Anda mulai membuka dan memberanikan diri bicara uang dengan pasangan.

Apa saja trik bicara masalah keuangan dengan pasangan?

 

1. Buat acara “Money Dating”

Membicarakan keuangan rumah tangga memang hal yang serius tetapi tidak berarti harus sulit dan dalam suasana tegang. Cobalah untuk nge-date hanya berdua dengan pasangan guna berdiskusi bagaimana sebaiknya mengatur keuangan keluarga, termasuk budget untuk tabungan dan rencana pensiun nanti.

Usahakan waktu yang Anda pilih jauh dari gangguan si kecil, telepon, atau hal lainnya.

 

2. Tulis surat

Jika waktu yang Anda miliki tidak banyak, atau pasangan adalah tipe yang tertutup, Anda bisa menulis surat tentang gambaran rencana finansial Anda. Bicarakan dalam surat tersebut tentang bagaimana rancangan keuangan Anda dulu, termasuk bagaimana ayah dan ibu Anda mendidik masalah keuangan.

Dengan cara ini, Anda akan saling memahami pandangan masing-masing tentang keuangan. Diskusikan juga impian keuangan Anda, dan apa saja yang rela Anda korbankan untuk mencapai impian tersebut.

 

3. Buat pertanyaan

Saat “kencan keuangan” kedua, tanyakan kepada pasangan tentang surat Anda. Kemudian tanyakan kepadanya tentang hal dasar dalam rumah tangga, seperti:

  • Apakah ia lebih suka menyewa rumah dibanding membeli?
  • Kapan ia berencana pensiun?
  • Apa yang hendak ia lakukan saat pensiun?
  • Apakah ada rencana membiayai anak kuliah, dan seterusnya.

Usahakan untuk tidak saling menyalahkan karena memang tidak ada yang salah di sini. Anda berdua perlu jujur agar ada titik temu dalam mengatur keuangan keluarga.

 

4. Gunakan titik pandang “kami”

Buatlah budget yang realistis berdasarkan kesepakatan berdua. Tulis rencana tersebut atas nama “kami”, bukan “saya” atau “kamu”. Pernikahan adalah sebuah hubungan kerja sama, bukan hubungan atasan dan bawahan.

Jika Anda pandai menabung tetapi pasangan sebaliknya, jangan pernah menghakimi pasangan sebagai tukang belanja atau boros. Tidak ada orang yang suka dihakimi. Lebih baik ambil jalan tengah dengan menentukan budget yang bisa dibelanjakan.

 

5. Saling mendengarkan

Jika pasangan merasa nyaman menyisihkan 20 persen pendapatan keluarga, tanyakanlah alasannya. Apakah karena ia ingin lebih sering makan di luar, karena memiliki utang, atau tanggungan kewajiban lainnya.

 

6. Belajar dari kesalahan

Apakah pasangan Anda sering overbudget karena mobil tuanya yang enggan ia jual? Jangan langsung menyalahkan. Coba atasi hal ini dengan menambahkan budget pada pos perbaikan mobil dan minta ia pertimbangkan untuk mengganti mobil atau mengurangi budget hobinya.

Berikan gambaran yang tepat agar pasangan bersedia mempertimbangkan opsi-opsi yang Anda pilihkan.

Ketika bicara uang dengan pasangan, selalu simpan di pikiran Anda bahwa semuanya harus win-win solution. Jika Anda atau pasangan harus mengalah, selalu pastikan mengalah karena kerelaan bukan paksaan. Bagaimanapun juga, pembicaraan ini untuk kebaikan bersama bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.