- Kehamilan

Kehamilan Beresiko Menurut Depkes dan Penyakit Ibu Hamil

Dalam beberapa artikel, mamagaol.com sering menyebutkan kehamilan beresiko. Apa itu kehamilan beresiko menurut Depkes? Tahukah Bunda, apa arti kehamilan beresiko dan siapa saja yang termasuk dalam kelompok kehamilan beresiko?

Kehamilan beresiko menurut Depkes, berarti suatu kondisi yang dapat berpengaruh buruk terhadap keadaan ibu dan janin. Atau sebaliknya, kondisi buruk janin yang dapat mengakibatkan kondisi buruk pada ibu.

Kondisi buruk ini dapat terjadi karena sebab yang bermacam-macam; bisa karena penyakit, perbedaan golongan darah ibu dan anak, atau karena sebab lain.

Untuk mengetahui potensi kehamilan Bunda, apakah beresiko atau tidak, Bunda dapat melihat beberapa faktor berikut ini sebagai acuan:

 

  1. Usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  2. Memiliki lebih dari 4 anak
  3. Jarak antara waktu persalinan terakhir dan kehamilan yang sedang dijalani kurang dari dua tahun
  4. Mengalami KEK atau Kurang Energi Kronis; tandanya lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm dan/ atau mengalami penambahan berat badan kurang dari 9 kg selama masa hamil
  5. Mengalami anemia dengan kadar hemoglobin kurang dari 1g/ dl
  6. Tinggi badan kurang dari 145 cm, atau memiliki kelainan bentuk panggul dan tulang belakang
  7. Mengalami hipertensi pada kehamilan sebelumnya
  8. Sedang atau pernah menderita penyakit kronis seperti tuberkulosis, kelainan jantung, ginjal, hati, kelainan endokrin (diabetes melitus, lupus), psikosis, tumor, dan keganasan.

 

Kondisi di atas disebut beresiko karena dapat menimbulkan beberapa penyakit, mengakibatkan bayi lahir dini, bayi lahir meninggal, atau lahir dengan penyakit bawaan. Kondisi ini kadang disebut juga dengan komplikasi kehamilan.

 

Macam-macam penyakit yang diderita ibu selama kehamilan, antara lain:

 

1. Anemia

Anemia terjadi karena kurangnya kadar hemoglobin dalam darah. Biasanya terjadi karena rendahnya cadangan zat besi ibu hamil. Kadar hemoglobin yang rendah dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen, hambatan pertumbuhan sel-sel tubuh dan otak janin, abortus, hingga pendarahan.

 

2. Janin tidak berkembang dengan baik

Ada banyak faktor yang memengaruhi penyebab janin tidak dapat berkembang dengan baik. Bisa karena nutrisi dari ibu yang kurang, adanya infeksi tokso, anemia, gangguan darah, juga karena faktor genetik.

Janin tidak berkembang tidak berarti janin meninggal. Penanganan yang diberikan tergantung dari hasil diagnosis dan kondisi ibu.

 

3. Diabetes gestasional

Penyakit ini termasuk dalam silent killer karena kadang tidak memberikan tanda apa pun. Bisa saja tiba-tiba ibu hamil dinyatakan kadar gula darahnya terlalu tinggi.

Diabetes gestasional sangat berbahaya bagi ibu dan janin. Namun, penyakit ini dapat ditangani selama ibu disiplin dengan menu makanannya dan mengikuti petunjuk dokter.

 

4. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi sebetulnya umum terjadi pada ibu hamil. Biasanya tekanan darah tinggi muncul setelah kehamilan berusia 20 minggu hingga saat ibu hamil melahirkan.

Darah tinggi dapat menyebaban kelahiran prematur, aliran darah ke plasenta berkurang, keguguran, hingga janin meninggal dalam kandungan.

Cara terbaik untuk menanganinya, yaitu dengan rutin memeriksakan diri ke dokter, rutin berolah raga, mengonsumsi makanan bergizi, dan jangan mengganti obat atau suplemen tanpa pengawasan dokter.

 

5. Muntah yang tidak kunjung henti, melebihi mual dan muntah saat awal hamil

Kondisi ini sangat berbahaya untuk janin karena janin dapat kekurangan nutrisi. Hal ini terjadi karena pengaruh hormon pada ibu, hamil bayi kembar, overweight, atau pertama kali hamil.

 

Jadi, jika Bunda memiliki beberapa faktor kehamilan beresiko menurut Depkes kehamilan seperti di atas dan sedang merencanakan kehamilan, akan lebih baik bila Bunda berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter agar gangguan kehamilan dapat dicegah.