- Kehamilan

Hamil di Usia 40 Tahun Berisiko Melahirkan Anak Down Syndrome?

Orang bilang, kesuburan dan kesehatan wanita itu ada batasnya, yakni tidak lagi bisa hamil di usia 40 tahun. Sayangnya, kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarga kadang tidak seperti yang direncanakan. Segala cara sudah diupayakan, apa daya, si kecil tak jua hadir meramaikan kebahagiaan rumah tangga.

Kerisauan mulai bertambah, ketika usia beranjak ke angka 40. Kabar bahwa hamil di usia 40 tahun berisiko melahirkan bayi dengan down syndrome bisa membuat hati risau, bertanya-tanya apakah usaha untuk memiliki momongan harus diteruskan?

 

Hamil di usia 40 tahun, benarkah berisiko?

Dari hari ke hari, angka hidup orang semakin panjang. Kabarnya karena kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat pun semakin tinggi.

Sayangnya, kesadaran akan kesehatan tidak begitu saja menurunkan risiko hamil di usia 40 tahun. Kemungkinan down syndrome tetap saja tinggi pada ibu yang hamil pada kisaran usia ini.

Down syndrome terjadi ketika seorang bayi memiliki salinan dua buah dan satu buah salinan separuh kromosom 21. Ketiganya melekat pada kromosom yang berbeda. Kondisi ini disebut dengan down syndrome translokasi. Down syndrome ini biasanya diturunkan dari salah satu pihak orang tua.

Orang tua yang menjadi carrier atau pembawa down syndrome bisa saja tidak menunjukkan gejala apa pun tetapi bisa menurunkan bawaan kepada bayinya. Akibatnya, janin akan mendapat tambahan  materi genetik kromosom 21.

Down syndrome dapat terjadi pada semua ibu yang hamil. Hanya saja risikonya meningkat seiring semakin bertambahnya usia ibu.

Ibu hamil pada usia 25 tahun memiliki risiko bayi lahir down syndrome sebesar 1 : 1200. Pada usia 35 tahun, risiko meningkat menjadi 1: 350, usia 40 tahun 1: 100, dan usia 49 tahun 1: 10 kelahiran.

Karena itu, pasangan yang merencanakan kehamilan di atas 40 tahun sangat disarankan untuk melakukan sesi konsultasi genetika terlebih dahulu.

Hamil di atas usia 40 tahun juga memiliki risiko kesehatan lain, seperti:

  1. Diabetes gestasional (diabetes yang muncul karena ibu mengandung)
  2. Pre-eklampsia
  3. Keguguran
  4. Melahirkan dini atau lahir prematur
  5. Plasenta previa
  6. Bayi lahir meninggal.

Sementara risiko bayi lahir dengan autisme mungkin terjadi karena ayah berusia lebih dari 40 tahun. Risiko di atas akan semakin besar ketika salah satu atau kedua keluarga juga memiliki riwayat gangguan kesehatan lainnya. Jadi, jika usia sudah di atas 40 tahun, apakah lebih baik tidak hamil?

 

Hamil di usia 40 tahun, ya atau tidak?

Perlu Ayah dan Bunda catat, risiko hamil di usia 40 tahun memang ada tetapi di luar sana juga banyak pasangan yang sudah berusia di atas 40 tahun memiliki bayi yang sehat dan ibu juga tidak mengalami gangguan kehamilan apa pun.

Karena itu, jika Ayah dan Bunda berencana menambah momongan atau masih mengusahakan untuk punya momongan, jagalah selalu kesehatan Ayah dan Bunda. Ubahlah gaya hidup lebih sehat, seperti dengan menghindari rokok, minuman beralkohol, atau menggunakan obat-obatan.

Bagi Ayah dan Bunda yang berencana menambah momongan, tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya kelainan kromosom dan kemungkinan adanya TORCH, tekanan darah, dan USG.

Jadi, tidak perlu terlalu khawatir jika Ayah dan Bunda masih ingin menambah momongan di usia 40 tahun. Hamil di usia 40 tahun juga ada sisi positifnya, lho. Orang tua pada usia ini biasanya sudah lebih matang, baik secara ekonomi, emosi, juga mental, dan lebih bertanggung jawab, serta biasanya lebih bahagia. Semuanya merupakan modal dasar yang tepat untuk tumbuh kembang seorang anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.