- Menyusui

Jangan Bingung Lagi, Ini 5 Mitos Salah Tentang Kualitas ASI

Di luar sana, banyak sekali pemahaman yang salah tentang kualitas ASI dan menyusui. Sayangnya, pemahaman salah ini bisa mempengaruhi mudah tidaknya Bunda memberikan ASI kepada bayi.

Kita mendengar informasi dari teman, membaca situs-situs online, juga nasihat orang tua dan para ahli kesehatan. Saking banyaknya informasi, kadang kita bingung, info mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang berdasarkan ilmu pengetahuan, dan mana yang hanya ‘katanya’.

Syukurlah, para peneliti tidak pernah berhenti meneliti ASI. Berdasarkan penelitian tersebut, akhirnya dapat dipilih, mana yang hanya mitos, dan mana pernyataan yang benar.

Berikut adalah 5 mitos ASI yang sebaiknya kita lupakan:

 

1 . “ASI saya tidak mengandung lemak karena kurang kental”

Kekentalan ASI bukanlah ukuran kualitas ASI. Namun kekentalan ASI memang dipengaruhi oleh kandungan lemak dalam ASI.

Jumlah lemak dalam ASI sendiri tidak dipengaruhi oleh makanan yang Bunda konsumsi meskipun di saat itu Bunda sedang berpuasa. Makanan akan memengaruhi jenis lemak yang ada di dalam ASI.

Bunda yang terbiasa mengonsumsi daging dan susu tinggi lemak tentu saja ASI-nya mengandung lemak jenuh yang tinggi.  Sementara Bunda yang terbiasa mengonsumsi ikan (meskipun berkadar lemak tinggi), kacang-kacangan, dan minyak nabati, memiliki ASI yang lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh.

 

2. Bunda harus benar-benar mengonsumsi makanan sehat 100 persen sepanjang masa menyusui

Ibu yang tidak mengikuti menu sehat 100 persen tetap bisa membuat ASI berkualitas.

Meskipun begitu, tetap disarankan bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi cukup makanan sehat termasuk demi kesehatan ibu sendiri.

Menyusui merupakan kegiatan yang melelahkan baik secara fisik ataupun emosional. Mengonsumsi makanan sehat akan membantu Bunda selalu dalam kondisi terbaik untuk menghadapi tantangan mengasuh anak.

 

3. Bayi saya tidak mendapat cukup hindmilk, jadi ia masih kekurangan nutrisi

Hindmilk memang terlihat lebih kental karena mengandung lebih banyak lemak. Sepertinya terlihat lebih berkualitas karena warnanya putih dan memang menggambarkan warna asli susu.

Kenyataannya, baik foremilk (ASI yang keluar pertama kali setiap Bunda menyusui) atau pun hindmilk tetap dibutuhkan oleh bayi.

Foremilk mengandung banyak protein yang berguna untuk pembentukan saraf, kekebalan, dan jaringan tubuh. Sementara hindmilk akan membuat bayi cukup energi dan kenyang.

Yang penting selama Bunda benar-benar mengosongkan payudara setiap kali menyusui maka Bunda tidak perluu khawatir bayi Bunda kurang nutrisi.

 

4. “Bayi saya sering lapar, itu artinya ASI saya tidak bagus”

Selama Bunda selalu memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi maka bayi Bunda telah mendapat apa yang ia butuhkan.

Frekuensi bayi menyusui bukan indikasi ASI Bunda berkualitas atau tidak. Beberapa bayi memang lebih suka minum sedikit saat satu sesi menyusui, sementara bayi lainnya lebih suka minum ASI lebih banyak.

 

5. “Bayi baru lahir butuh lebih dari sekadar susu kolostrum”

Bayi baru lahir memiliki  rongga pencernaan yang sangat kecil, hanya sebesar satu biji kelereng. Artinya mereka tidak akan mampu minum susu dalam jumlah besar di hari-hari pertama mereka.

Ibu menyusui baru pun hanya membuat kolostrum di hari-hari pertama sesudah melahirkan. Kolostrum merupakan konsentrat sumber imunitas tubuh guna melindungi bayi dari infeksi, membantunya mengeluarkan mekonium (kotoran bayi pertamanya), dan membuat koloni bakteri baik di perutnya. Jumlahnya tentu sesuai dengan kebutuhan bayi.

 

Jadi Bunda, sebelum terburu-buru menyatakan ASI Bunda tidak berkualitas, lebih baik pastikan dulu dengan dokter atau bidan yang menangani kelahiran si kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.