- Anak

30 Checklist untuk Mendeteksi Terlambat Bicara pada Anak

Apakah Bunda termasuk orang tua yang khawatir anak Bunda terlambat bicara? Setiap orang tua pasti dapat memahami apa yang bayi mereka inginkan meski anak-anak mereka tidak menggunakan bahasa apa pun. Namun seiring dengan semakin bertambahnya usia bayi, mereka juga harus mampu mengungkapkan keinginannya melalui bahasa atau berbicara.

Perkembangan bahasa anak memang berbeda-beda tetapi ada standar yang perlu dipenuhi, agar orang tua tahu anaknya terlambat bicara atau tidak.

Ikuti 30 poin checklist berikut untuk mendeteksi keterlambatan bicara pada anak sejak dini:

 

Checklist perkembangan bahasa di usia 1 tahun:

  1. Tahu namanya sendiri.
  2. Mampu memperhatikan saat diajak bicara.
  3. Merespons saat diberi perintah sederhana, seperti “Jangan dimakan”, “Tidak boleh”.
  4. Merespons kalimat permintaan sederhana, seperti “Minta, dong”.
  5. Paham bahasa sederhana saat diikuti dengan gerak tubuh, seperti “Hello”, “Bobo”, “Mandi”.
  6. Dapat menghubungkan gambar dan suara, seperti “Pus, ngeong”.
  7. Tertawa saat Ayah-Bunda tertawa, dan mungkin berusaha bernyanyi bersama Ayah-Bunda dengan cara menepukkan tangannya.
  8. Mencoba menirukan kata yang biasa digunakan, seperti “Minum” menjadi “num”.
  9. Mencoba berkata sambil menunjukkan sebuah benda.
  10. Lebih sering menyebutkan nama benda.
  11. Mulai menyebutkan 2-3 kata selain “Yah” dan “Bun”.
  12. Saat ingin diperhatikan, ia tidak akan menangis lagi, tetapi berusaha memanggil Ayah atau Bunda.
  13. Mampu berpartisipasi dalam permainan sederhana dengan teman, misalkan dalam permainan oper bola.

 

Konsultasikan ke dokter jika:

  1. Si kecil tidak merespons ketika dipanggil namanya.
  2. Hanya menggumam sedikit atau malah tidak sama sekali.

 

Checklist perkembangan bahasa di usia 2 tahun:

  1. Paham kata “tidak” dan “jangan”.
  2. Dapat menunjukkan paling tidak 5 bagian tubuh.
  3. Dapat mengambilkan benda dari ruangan lain.
  4. Mengangguk saat berkata “ya” dan menggeleng saat bilang “tidak”.
  5. Lebih paham banyak kata dibanding bicara.
  6. Paham pertanyaan sederhana, seperti “mana bola?”.
  7. Senang mendengarkan cerita.
  8. Dapat mengikuti suara, seperti “meong”.
  9. Meminta makan atau mainan menggunakan kata mereka sendiri, seperti “num” untuk minum, “la” untuk bola, “cu” untuk susu, dan seterusnya.
  10. Sering menggunakan satu kata dibanding kalimat.
  11. Sering menggunakan kata “lagi” jika ingin sesuatu lebih banyak atau diulang.
  12. Dapat menggunakan 10-20 kata termasuk namanya sendiri.
  13. Dapat menjawab pertanyaan “Benda apa itu?”.
  14. Dapat menyebutkan nama-nama benda yang biasa dijumpai.
  15. Mulai menggunakan kata “aku”, “kamu”.
  16. Mulai menggabungkan dua kata benda dan kata kerja, seperti “pus, mam”.
  17. Mulai menggabungkan dua kata seperti, “ndak mau”.

 

Tanda harus ke dokter:

  1. Si kecil masih belum dapat bicara.
  2. Lebih suka sendirian dan marah jika ditemani.
  3. Lebih suka menggunakan bahasa tubuh dibanding kata.
  4. Ayah-Bunda tidak yakin si kecil mampu memahami perkataan Ayah-Bunda.

 

Bagaimana jika ada beberapa milestone yang terlewat?

Checklist di atas hanya berfungsi sebagai observasi. Jika perkembangan bahasa si kecil tidak tepat waktu atau ada lebih dari satu checklist di atas tidak terpenuhi, Ayah-Bunda tidak perlu khawatir. Cukup gunakan standar “tanda harus ke dokter”, sebagai tolok ukur keterlambatan perkembangan bahasa si kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.